sidoarjoupdate.com – Proyek pembangunan Jembatan Candinegoro, Sidoarjo, memasuki fase percepatan setelah progres fisiknya tertinggal 9,94 persen dari target. Pelaksana pekerjaan kini menerapkan sistem kerja 24 jam dan membagi tenaga kerja menjadi dua tim untuk mengejar keterlambatan tersebut.

Langkah percepatan itu dilakukan setelah evaluasi progres pada Senin (5/10/2026) menunjukkan realisasi pekerjaan baru mencapai 52,64 persen. Proyek yang menelan anggaran Rp1,46 miliar tersebut saat ini memasuki minggu ke-11 pengerjaan.
Konsultan Pengawas Proyek, Umar, mengatakan strategi percepatan dilakukan dengan menambah tenaga kerja sekaligus memperpanjang waktu pengerjaan. Sebanyak 18 pekerja dibagi menjadi dua tim untuk mengoptimalkan pekerjaan struktur jembatan.
“Kami membagi pengerjaan menjadi dua tim dengan total 18 pekerja. Pengerjaan dilakukan secara maraton hingga Subuh untuk memaksimalkan tahapan pemasangan struktur baja, diafragma, dan gelagar WF,” ungkap Umar saat ditemui di lokasi proyek.
Menurut Umar, keterlambatan tidak lepas dari sejumlah kendala teknis. Di antaranya pengiriman material baja Wide Flange (WF) yang membutuhkan proses perakitan terlebih dahulu di workshop. Akses pengangkutan material juga menjadi salah satu kendala.
Selain itu, kondisi air sungai di sekitar lokasi pekerjaan fondasi turut memengaruhi progres pembangunan.
“Meskipun ada keterlambatan di awal, dengan percepatan pemasangan baja dan pengecoran plat lantai serta plat injak yang sedang berjalan, kami optimistis proyek selesai tepat waktu,” ujar Umar.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Bupati Sidoarjo H. Subandi saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi pembangunan Jembatan Candinegoro, Selasa (6/10/2026) pagi.
Subandi meminta keterlambatan pekerjaan segera dikejar. Ia mendorong penerapan minimal dua shift kerja agar deviasi tidak semakin melebar dan target penyelesaian pada Desember 2026 tetap dapat dipertahankan.
“PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) tadi menyampaikan deviasinya saat ini mencapai 9 persen. Karena ini pengerjaan jembatan, kami menyarankan agar diberlakukan minimal sistem dua shift untuk mengejar deviasi tersebut,” ujarnya.
Subandi menargetkan pembangunan jembatan yang berada di Candinegoro itu rampung pada 16 Desember 2026. Karena itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) diminta lebih aktif melakukan pengawasan di lapangan dan memperkuat koordinasi bersama konsultan pengawas serta kontraktor.
“PPK kita sampaikan untuk sering sidak. Sering koordinasi antara konsultan dengan kontraktor. Kalau ada deviasi, panggil ke kantor. Bicarakan kekurangannya apa untuk segera ditindaklanjuti. Biarkan pelaksanaan pekerjaan jembatan ini tepat waktu,” ujarnya.
Bupati menilai keterlambatan tidak semestinya dibiarkan berlarut dengan alasan kendala lapangan. Menurutnya, kebutuhan material dan tenaga kerja yang telah disepakati harus menjadi dasar pelaksanaan pekerjaan sesuai jadwal.
Ia juga menyoroti alasan teknis berupa kondisi aliran air sungai. Menurut Subandi, persoalan tersebut semestinya telah diperhitungkan sejak tahap perencanaan.
“Tidak bisa beralasan karena air. Sebelum bekerja kan sudah ada perencanaan. Karena itu, saya sampaikan kepada PPK dan konsultan pengawas agar pengawasan diperketat. Jika deviasi 9 persen ini bisa dikejar, saya yakin proyek selesai tepat waktu dan kualitas pekerjaan tetap terjaga,” tegasnya.
Sementara itu, pekerjaan struktur jembatan terus diarahkan pada sejumlah bagian yang menjadi prioritas. Pengecoran pile cap abutment atau fondasi bawah di sisi utara telah selesai dan kini memasuki tahap perawatan beton atau curing yang membutuhkan waktu sekitar tujuh hari.
Setelah itu, pekerjaan difokuskan pada sisi selatan, dinding abutment, serta pier head atau kepala jembatan. Pemasangan struktur baja, diafragma, dan gelagar WF juga menjadi bagian yang dikejar melalui sistem kerja percepatan.
Secara konstruksi, proyek tersebut terdiri atas dua unit jembatan. Masing-masing memiliki panjang 8 meter sehingga total panjang jembatan mencapai 16 meter dengan lebar 4 meter.
“Secara spesifikasi, proyek ini mencakup pembangunan dua unit jembatan yang masing-masing memiliki panjang 8 meter dengan total panjang 16 meter dan lebar 4 meter,” ungkapnya.
Dengan waktu pengerjaan yang tersisa, percepatan menjadi kunci agar keterlambatan progres tidak berujung pada molornya target penyelesaian. Pengawasan lapangan dan koordinasi antara PPK, konsultan pengawas, serta kontraktor juga diminta diperketat untuk memastikan pekerjaan berjalan sesuai rencana.
(Lisa)


