sidoarjoupdate.com – Target eliminasi tuberkulosis (TBC) di Kabupaten Sidoarjo masih menghadapi pekerjaan besar. Hingga 25 September 2026, penemuan kasus baru mencapai 3.849 dari estimasi 6.492 kasus sepanjang tahun ini. Artinya, masih terdapat kesenjangan penemuan yang membutuhkan penguatan pemeriksaan, terutama di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Kondisi tersebut menjadi salah satu sorotan dalam Deklarasi Desa dan Kelurahan Siaga Tuberkulosis Tingkat Kabupaten Sidoarjo 2026 di Pendopo Delta Wibawa, Selasa (29/9/2026). Kegiatan bertema Sinergi Bersama Menuju Eliminasi Tuberkulosis itu dihadiri Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus dan Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus.
Dari total kasus yang telah ditemukan, sebanyak 3.484 pasien sudah menjalani pengobatan. Capaian pengobatan tercatat 90,5 persen berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut. Namun, Dinas Kesehatan Sidoarjo mencatat keberhasilan pengobatan baru mencapai 84 persen dari target 90 persen.
Perbedaan capaian tersebut menunjukkan bahwa penanganan TBC tidak berhenti pada penemuan dan pemberian obat. Pemantauan pasien hingga menyelesaikan pengobatan menjadi bagian penting untuk mencegah penularan berkelanjutan.
Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus menegaskan, pengendalian TBC harus dilakukan secara menyeluruh. Pemeriksaan terhadap kontak erat, khususnya anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien, perlu diperkuat. Begitu pula pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi orang yang memenuhi kriteria medis.
Menurutnya, penanggulangan TBC tidak dapat dibebankan hanya kepada tenaga kesehatan. Pemerintah daerah, pemerintah desa dan kelurahan, kader, serta masyarakat perlu terlibat agar penemuan kasus menjangkau lingkungan permukiman.
“Peran kader sangat penting karena mereka berada dekat dengan masyarakat. Para kader membantu penemuan kasus, pelacakan kontak, serta pendampingan masyarakat. Termasuk mengantisipasi pola hidup yang menjadi faktor risiko penularan,” kata Benjamin.
Dukungan pemerintah pusat juga diarahkan pada penguatan sarana pemeriksaan. Sidoarjo mendapat tambahan tiga unit X-ray portabel. Dengan satu unit yang telah tersedia sebelumnya, kini terdapat empat unit untuk menunjang pemeriksaan TBC.
Selain sarana tersebut, sebanyak 656 kader kesehatan akan mendapatkan honor dari pemerintah pusat sebesar Rp500 ribu per orang setiap bulan. Dukungan ini diharapkan memperkuat keterlibatan kader dalam kegiatan penemuan kasus, pelacakan kontak, hingga pendampingan pasien.
Sementara itu, Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana yang hadir mewakili Bupati Subandi menilai keberhasilan pengendalian TBC sangat bergantung pada keterlibatan berbagai pihak. Perubahan pola hidup, peningkatan kewaspadaan, dan kolaborasi pemerintah dengan masyarakat harus berjalan beriringan.
“Penanggulangan TBC bukan hanya urusan tenaga kesehatan. Ini urusan kita bersama. Karena itu, penanggulangannya juga harus dilakukan bersama,” ujarnya.
Mimik juga menekankan perlunya memperbanyak penemuan kasus dan memastikan pasien menjalani pengobatan sampai tuntas. Penguatan koordinasi lintas sektor diperlukan agar penularan dapat ditekan, terutama di lingkungan keluarga.
Di luar persoalan TBC, Mimik menyampaikan dukungan pembangunan puskesmas di 15 titik. Pemkab Sidoarjo juga memiliki anggaran pembangunan rumah sakit sebesar Rp132 miliar yang pemanfaatannya masih akan dibahas bersama Bupati Sidoarjo.
Dua opsi pengembangan yang dipertimbangkan adalah RSUD Sedati atau RSUD Sidoarjo Barat (Sibar). Penentuan lokasi akan mempertimbangkan ketersediaan lahan untuk mendukung pengembangan fasilitas kesehatan.
Benjamin sendiri menilai fasilitas kesehatan di Sidoarjo cukup memadai, dengan keberadaan dua rumah sakit daerah dan puluhan rumah sakit swasta. Namun, pengembangan layanan perlu diimbangi ketersediaan tenaga medis, terutama dokter spesialis.
Saat mengunjungi RSUD RT Notopuro Sidoarjo, ia mendorong rumah sakit tersebut mengambil peran dalam pendidikan dokter spesialis. Ketersediaan fasilitas dan jumlah pasien dinilai dapat menjadi modal untuk mendukung pengembangan pendidikan tenaga medis.
Ia juga menyoroti pentingnya deteksi dini melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Setiap temuan penyakit maupun pemberian obat harus tercatat dalam sistem sehingga pelaporan menggambarkan kondisi sebenarnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina menjelaskan, estimasi penemuan kasus TBC pada 2026 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 5.000 kasus. Hingga 25 September, capaian penemuan kasus baru sekitar 59,3 persen dari estimasi tahun ini.
Pemkab Sidoarjo telah membentuk Tim Percepatan Penanggulangan TBC (TP2TB), memperluas pemeriksaan kontak serumah, serta melakukan skrining di lingkungan pesantren dan tempat kerja.
Pembentukan Desa dan Kelurahan Siaga TBC juga terus diperluas. Dari total 346 desa dan kelurahan di Sidoarjo, sebanyak 186 wilayah telah membentuk desa atau kelurahan siaga TBC. Dengan demikian, masih ada 160 wilayah yang perlu didorong untuk membentuk program serupa.
“Yang penting, TBC merupakan penyakit yang ada di masyarakat dan tidak bisa dikendalikan hanya oleh sektor kesehatan. Karena itu, strateginya harus dimulai dari tingkat pimpinan daerah hingga masyarakat,” ujar Lakhsmie.
Lakhsmie turut menjelaskan pentingnya pemeriksaan HIV terhadap pasien TBC. Infeksi HIV dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga meningkatkan kerentanan terhadap penyakit infeksi, termasuk tuberkulosis.
Meski berbagai program telah berjalan, pelaksanaannya masih menghadapi sejumlah hambatan. Di antaranya berkurangnya dukungan pendanaan untuk pengiriman sampel pemeriksaan, kerusakan mobil X-ray, serta masih rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan dan terapi pencegahan TBC.
Dari sisi anggaran, alokasi program TBC meningkat dari Rp6,3 miliar pada 2026 menjadi Rp11,3 miliar pada 2027. Anggaran tersebut diarahkan untuk mendukung penemuan kasus, validasi data, pemantauan pengobatan, dan koordinasi lintas sektor.
Dengan capaian penemuan yang belum menyentuh 60 persen dari estimasi kasus, perluasan skrining dan penguatan peran masyarakat menjadi tantangan utama penanggulangan TBC di Sidoarjo. Keberadaan desa siaga, dukungan kader, serta kesinambungan pengobatan akan menentukan sejauh mana target eliminasi penyakit tersebut dapat dicapai.
(Lisa)


