sidoarjoupdate.com – Perselisihan dalam sebuah keluarga di kawasan Tanggulangin, Sidoarjo, berkembang menjadi persoalan serius setelah AL (43), warga setempat, mengaku mendapat ancaman kekerasan melalui pesan suara WhatsApp.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Ancaman tersebut disebut berkaitan dengan persoalan pengasuhan seorang anak berusia tiga tahun. AL mengaku mendapat pesan suara dari TS/Yosi (47), warga Permata Regency sekaligus ayah kandung anak tersebut, setelah sebelumnya mengajak sang keponakan berlibur ke Pacet.

AL mengatakan, ajakan membawa keponakannya berwisata dilakukan bersama ibu anak yang merupakan adik kandungnya. Ia menyebut kegiatan tersebut sebagai agenda keluarga dan tidak bermaksud mengambil alih peran orang tua.

“Anak itu saya anggap seperti anak sendiri karena saya adalah pakdenya,” ujar AL kepada wartawan.

Menurut AL, persoalan baru muncul sekitar sepuluh hari setelah kegiatan tersebut. Ia menerima pesan suara melalui WhatsApp yang dikirim TS. Dalam rekaman itu, AL mengaku mendapat tuduhan sekaligus ancaman agar tidak lagi mengajak anak tersebut bepergian.

Ancaman yang dimaksud berupa pernyataan akan membacok AL menggunakan kapak apabila kembali mengajak anak itu rekreasi.

“Saya mendengar suara itu dan merasa tersinggung sekaligus terancam. Saya dituduh dan diancam akan dibacok pakai kapak kalau mengajak anaknya rekreasi lagi,” ungkap AL dengan nada kecewa.

Situasi tersebut sempat membuat AL terpancing emosi. Ia mengaku berniat menemui TS secara langsung untuk membicarakan persoalan tersebut. Namun, rencana itu urung dilakukan setelah istri dan keluarganya meminta AL menahan diri agar perselisihan tidak berkembang menjadi kekerasan fisik.

“Saya sempat emosi dan ingin mengajak dia berhadapan. Tapi saya ditahan istri dan keluarga. Saya tidak ingin masalah ini berujung perkelahian,” kata AL.

AL menilai persoalan tersebut seharusnya dapat diselesaikan melalui pembicaraan keluarga. Ia juga membantah adanya maksud lain di balik keputusannya mengajak sang keponakan berlibur ke Pacet.

Baginya, hubungan sebagai paman membuat dirinya merasa wajar mengajak keponakan bepergian bersama keluarga. Karena itu, AL keberatan apabila tindakannya kemudian dikaitkan dengan tuduhan yang menurutnya tidak memiliki dasar yang jelas.

“Kami dari pihak perempuan tidak menerima tuduhan tanpa dasar lalu diancam. Saya berharap dia sadar dan tidak bertindak semaunya,” tegas AL.

Sementara itu, TS saat dihubungi secara terpisah melalui WhatsApp pada Kamis (17/9/2026), mengakui perbuatannya. Ia menyampaikan permintaan maaf kepada AL dan menyebut tindakannya terjadi karena terbawa emosi.

Namun, permintaan maaf tersebut belum membuat persoalan kedua pihak berakhir. AL menyatakan belum menerima permintaan maaf tersebut dan masih merasa keberatan atas persoalan yang terjadi.

“Saya tidak terima. TS dan adik saya menindas saya sesuka hati,” tambah AL singkat.

Hingga Kamis (17/9/2026), kedua pihak disebut belum mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan perselisihan tersebut. Persoalan keluarga itu pun masih menyisakan ketegangan dan berpotensi berlanjut apabila tidak segera diselesaikan melalui komunikasi antara kedua pihak.

(Redaksi)