Sidoarjoupdate.com – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Kalidawir, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, berlangsung meriah, Sabtu (15/8/2026). Karnaval warga diikuti 13 unit sound horeg yang masing-masing mewakili RT 1 hingga RT 13.

Selain dentuman musik, setiap rombongan menampilkan dancer dengan konsep berbeda. Sejumlah unit sound bahkan didatangkan dari luar daerah, antara lain Jember, Blitar, Malang, Pasuruan, Probolinggo, dan Mojokerto.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk partisipasi masyarakat dalam memeriahkan momentum kemerdekaan. Rombongan warga bergerak mengikuti rute karnaval dengan iringan musik dari masing-masing unit.
Ketua BPD Kalidawir, Imam Syafi’i, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari tradisi warga dalam memeriahkan HUT Kemerdekaan RI. Menurutnya, kegiatan serupa hampir setiap tahun digelar oleh masyarakat.
“Ini untuk memeriahkan HUT RI ke-81. Kegiatan seperti ini hampir setiap tahun dilaksanakan,” kata Imam kepada wartawan di lokasi, Sabtu (15/8/2026).
Terkait pembiayaan, Imam menjelaskan setiap RT memiliki pengaturan dan besaran biaya yang berbeda. Karena itu, pihak desa tidak mengetahui secara rinci anggaran yang dikeluarkan masing-masing RT.
“Untuk biaya sound masing-masing RT berbeda, panitia lapangan yang mengatur. Ada sound dari dalam desa, ada juga yang dari luar seperti Jember, Blitar, Malang dan Pasuruan,” jelasnya.
Imam menegaskan pelaksanaan kegiatan tetap diarahkan agar berlangsung aman dan tertib serta tidak mengganggu ketertiban umum. Ia menyebut selama karnaval tidak terjadi kerusakan rumah, kaca pecah, maupun korban.
“Selama tertib, aman, tidak mengganggu ketertiban umum dan tidak melanggar aturan daerah, kami persilakan. Kalau sampai ada kerusakan, panitia bertanggung jawab untuk memperbaikinya,” ujarnya.
Di sisi lain, penggunaan sound horeg juga memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat. Imam menyebut perbedaan pandangan tersebut menjadi pertimbangan untuk pelaksanaan kegiatan serupa ke depan.
Imam mengatakan, untuk sementara, kegiatan dengan konsep serupa akan ditiadakan sebagai bentuk penghormatan terhadap keberagaman pandangan warga.
“Kami menghormati kehendak masyarakat. Yang penting tetap tertib, aman, nyaman dan berpedoman pada aturan yang ada,” katanya.
Sementara itu, Anita (28), warga Desa Kalidawir, mengatakan penggunaan sound horeg dalam karnaval merupakan hasil kesepakatan warga di masing-masing RT. Untuk memenuhi kebutuhan sewa, masyarakat melakukan penggalangan dana secara swadaya.
“Ini sebelumnya sudah kesepakatan warga. Kami patungan untuk mendatangkan sound horeg dari daerah lain,” kata Anita.
Menurut Anita, biaya untuk satu unit sound horeg berkisar Rp45 juta hingga Rp65 juta. Dana tersebut berasal dari patungan warga secara sukarela.
“Setiap kepala keluarga patungan sekitar Rp 1 juta sampai Rp 1,5 juta. Memang cukup besar, tapi warga senang. Yang penting bisa sukses memeriahkan HUT RI,” pungkasnya.
[Lisa]


