sidoarjoupdate.com – Empat tahun menunggu kepastian pembangunan, warga Desa Kedungbanteng, Kecamatan Tanggulangin, akhirnya memiliki jembatan penghubung permanen menuju Desa Balongdowo, Kecamatan Candi. Jembatan yang sebelumnya hanya mengandalkan bambu dan balok kayu itu kini berubah menjadi konstruksi beton dan dapat dilalui kendaraan roda empat.

Jembatan tersebut diresmikan Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana pada Jumat malam (14/8/2026). Setelah peresmian, warga memberi nama akses penghubung tersebut sebagai Jembatan Mak Mimik.
Bagi masyarakat setempat, keberadaan jembatan bukan sekadar memperbaiki akses antardesa. Jalur itu juga menjadi bagian dari aktivitas warga yang berada di kawasan tambak dan perikanan. Kondisi jembatan yang lebih kuat membuat mobilitas warga dan pengangkutan hasil usaha menjadi lebih memungkinkan.
Kepala Desa Kedungbanteng Budiono mengatakan kebutuhan terhadap jembatan permanen telah lama disampaikan. Pemerintah desa bahkan sudah mengajukan proposal pembangunan sekitar empat tahun lalu.
“Proposal pembangunan jembatan ini sejak empat tahun lalu. Tidak pernah ada dari DLHK. Baru Februari kemarin, DLHK memanggil soal jembatan ini. DLHK bilang segera diupayakan untuk pembangunannya, saya tanya kapan pastinya, belum bisa jawab,” ungkap Budiono.
Karena belum mendapatkan kepastian waktu, pemerintah desa bersama perangkat dan tokoh masyarakat kemudian menyampaikan persoalan tersebut secara langsung kepada Mimik. Laporan itu selanjutnya ditindaklanjuti dengan penghitungan kebutuhan pembangunan.
“Saya langsung panggil tim saya, saya minta hitungan biayanya,” ujarnya.
Mimik menyebut pembangunan jembatan berlangsung dalam waktu kurang dari satu bulan sejak persoalan tersebut disampaikan kepadanya. Kecepatan pengerjaan itu menjadi salah satu hal yang mendapat perhatian warga saat peresmian.
“Alhamdulillah, akhirnya terbangun dan ndak sampai satu bulan pembangunannya sudah selesai. Gak nunggu empat tahun gak pakai ribet. Langsung. Iki berarti salah satu doa dari masyarakat Kedungbanteng dikabulkan,” ujar Mimik saat peresmian.
Secara teknis, jembatan memiliki panjang sekitar 7,20 meter dan lebar 3,60 meter. Konstruksinya menggunakan box culvert U-ditch dan cor beton sehingga akses yang sebelumnya lebih terbatas bagi sepeda motor kini dapat digunakan kendaraan roda empat.
Pembangunan jembatan juga melibatkan warga. Eko alias Toyo selaku pimpinan proyek menjelaskan mayoritas pembiayaan berasal dari Mimik, sedangkan masyarakat berpartisipasi dalam pengerjaan di lapangan.
“Hampir semuanya dananya dari Bu Mimik, sekitar 95 persen termasuk semua bahan materialnya. Yang 5 persen itu dari partisipasi warga untuk biaya pengerjaan di lapangan,” terang Toyo.
Selain badan jembatan, lingkungan di sekitar akses tersebut ikut ditata. Tanaman bunga bougenville ditanam di sisi sungai sehingga kawasan sekitar jembatan terlihat lebih rapi.
“Di samping sungai ditanamin bunga bougenville. Jembatannya cilik tapi ketok apik. Kan seneng iso selfie-selfie, iso foto-fotoan,” kata Mimik.
Mimik berharap keberadaan jembatan turut membuka ruang bagi perkembangan aktivitas ekonomi masyarakat. Kawasan Kedungbanteng yang memiliki tambak dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bagian dari kegiatan warga.
“Mudah-mudahan dengan adanya jembatan ini perekonomian yang ada di Kedungbanteng. Apalagi di sini sudah ada kolam tambak. Itu nanti bisa untuk dibikin lomba. Di sini sudah ada warung rujak biasanya jualan,” katanya.
Namun, manfaat jembatan tidak hanya bergantung pada keberadaannya. Mimik meminta warga ikut menjaga fasilitas tersebut agar dapat digunakan dalam waktu panjang.
“Ojo didelok jembatane tapi niatkan dan manfaatnya. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih. Ayo jembatan ini dijaga bersama-sama,” ujarnya.
Kini, jembatan yang dahulu menjadi akses sederhana berbahan bambu dan kayu telah berubah menjadi penghubung permanen Kedungbanteng-Balongdowo. Fasilitas tersebut diharapkan tidak hanya memperlancar perjalanan warga, tetapi juga mendukung aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan tambak.
(Lisa)


